Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.
Panen 12,88 Ton per Hektare di Kota Serang, Benarkah Petani Bisa Untung Rp49 Juta?

By On Senin, September 14, 2026

Sekretaris Dinas Pertanian Kota Serang Andriyani saat berbincang dengan Kontras7 terkait penerapan PM-AAS dan potensi hasil pertanian di Kota Serang. Senin (14/9/2026),

KONTRAS7.CO.ID — KOTA SERANG — Panen padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kasemen, Kota Serang, mencatat hasil 12,88 ton gabah per hektare. Angka tersebut melampaui target 10 ton per hektare.

Namun, bagi petani, hasil panen tinggi bukan satu-satunya ukuran. Pertanyaan berikutnya adalah berapa biaya yang harus dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh.

Sekretaris Dinas Pertanian Kota Serang, Andriyani, SP., M.Si., menjelaskan capaian tersebut merupakan hasil penerapan sistem budidaya yang memadukan teknik pertanian dengan teknologi. Saat berbincang dengan Kontras7, Senin (14/9/2026), Andriyani mengatakan PM-AAS bukan hanya soal meningkatkan hasil panen, tetapi juga bagaimana lahan dan tenaga kerja dapat dikelola secara lebih efisien.

Program PM-AAS merupakan salah satu program unggulan Kementerian Pertanian yang mulai dilaksanakan tahun ini dan diterapkan oleh BRMP Banten. Kota Serang menjadi salah satu lokasi percontohan sejak Mei 2026 dengan dukungan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Banten, dan Pemerintah Kota Serang.

DKP3 Kota Serang terlibat sejak tahap awal. Bersama penyuluh pertanian, dilakukan survei lokasi dan pengusulan calon petani dan calon lokasi (CPCL) kepada Kementerian Pertanian.

Pelaksanaannya melibatkan tujuh kelompok tani dengan total lahan sekitar 100 hektare yang tersebar di Margaluyu, Kilasah, Sawah Luhur, dan Kasunyatan.

Pendampingan dilakukan sejak awal budidaya hingga masa panen, mulai dari sosialisasi dan pemantauan, penyediaan benih, pupuk, pestisida hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Hasil ubinan kemarin cukup memuaskan, produktivitasnya mencapai 12,88 ton per hektare, bahkan melebihi target yang ditetapkan sebesar 10 ton per hektare,” kata Andriyani.

Teknologi Bukan Sekadar Mengejar Hasil Panen

PM-AAS memiliki sejumlah perbedaan dibanding pola budidaya konvensional. Salah satunya penggunaan metode tanam benih langsung atau tabela, pengaturan jarak tanam, penggunaan drum seeder, hingga pengelolaan air yang lebih terukur.

Teknologi juga digunakan dalam pemupukan melalui drone. Pola tersebut diharapkan dapat membantu menekan kebutuhan tenaga kerja sekaligus meningkatkan ketepatan dalam proses budidaya.

“Dari sisi tenaga kerja, baik jumlah maupun biayanya bisa lebih efisien. Memang kebutuhan agroinput seperti benih, pupuk dan pestisida tetap harus diperhatikan, begitu juga pengamatan selama masa pertumbuhan,” ujarnya.

Dalam pola konvensional, produktivitas padi umumnya berada di kisaran 5–6 ton per hektare. Sementara melalui PM-AAS, target produktivitas ditingkatkan hingga minimal 10 ton per hektare.

Pengaturan jarak tanam sekitar 25 x 3 sentimeter, peningkatan populasi tanaman, pengelolaan air untuk menekan pertumbuhan gulma dan OPT, serta pemeliharaan secara berkala menjadi bagian penting dalam sistem tersebut.

Artinya, teknologi membantu proses budidaya, tetapi hasil tetap membutuhkan kedisiplinan dalam perawatan dan pengamatan tanaman.

Apakah Bisa Diterapkan di Wilayah Lain?

Potensi penerapan PM-AAS di wilayah lain tetap terbuka. Namun, tidak semua lahan otomatis memiliki kondisi yang sama.

“Yang pertama tentu kemauan petani atau kelompok tani untuk mencoba sesuatu yang baru. Kemudian kondisi lahannya juga harus sesuai, terutama lahan sawah yang subur dan memiliki kecukupan air selama masa budidaya,” katanya.

Kota Serang memiliki baku sawah sekitar 7.534 hektare, dengan sekitar 5.125 hektare di antaranya merupakan lahan sawah beririgasi.

Luas tersebut menjadi potensi pengembangan. Meski demikian, perlu dilakukan sosialisasi, survei dan pemetaan agar penerapan teknologi sesuai dengan kondisi lahan serta kesiapan kelompok tani.

Dari Mana Angka Rp49 Juta Dihitung?

Sebelumnya, Gubernur Banten Andra Soni menyebut potensi keuntungan petani dapat mencapai sekitar Rp49 juta per hektare dalam satu musim tanam saat menghadiri panen PM-AAS di Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (1/9/2026).

Lalu, dari mana angka tersebut dihitung?

Andriyani menjelaskan, angka tersebut mengacu pada analisis usaha tani PM-AAS. Perhitungannya menggunakan asumsi produksi 10 ton gabah per hektare dengan harga gabah Rp6.500 per kilogram.

“Angka Rp49 juta itu berdasarkan analisis usaha tani PM-AAS, dengan asumsi produksi 10 ton per hektare dan harga gabah Rp6.500 per kilogram. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungannya sekitar Rp49 juta per hektare dalam satu musim tanam,” jelas Andriyani.

Dalam simulasi tersebut, produksi 10.000 kilogram dikalikan harga Rp6.500 per kilogram menghasilkan penerimaan sebesar Rp65 juta per hektare.

Sementara biaya produksi yang tercantum dalam analisis sebesar Rp15.037.000 per hektare. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan mencapai Rp49.963.000 per hektare dalam satu musim tanam.

Perhitungan tersebut dilakukan tanpa memasukkan biaya sewa lahan. Jika keuntungan Rp49.963.000 dibagi dalam periode empat bulan, nilainya setara dengan Rp12.490.750 per bulan.

Angka Rp49 juta bukan jaminan bahwa setiap petani akan memperoleh keuntungan dengan nilai yang sama. Hasil riil dapat berbeda, bergantung pada produktivitas, harga jual gabah, biaya produksi, kondisi lahan dan faktor lainnya.

Begitu pula angka Rp12.490.750 per bulan tidak dapat dimaknai sebagai pendapatan tetap atau gaji bulanan petani. Angka tersebut merupakan hasil pembagian keuntungan satu musim tanam dalam simulasi selama empat bulan.

Karena itu, produktivitas tinggi juga perlu diikuti dengan peningkatan kualitas hasil panen, pengelolaan pascapanen dan peluang nilai tambah agar manfaat ekonomi yang diterima petani semakin besar.

Air Menjadi Kunci

Kasemen merupakan salah satu kawasan penting bagi produksi padi di Kota Serang. Wilayah tersebut memiliki baku sawah sekitar 3.983 hektare yang terdiri atas sawah tadah hujan dan sawah dengan dukungan jaringan irigasi teknis.

Sebagian kebutuhan air berasal dari Sungai Ciujung melalui Bendungan Pamarayan Barat.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi bagian penting dalam keberhasilan budidaya. Pengaturan jadwal tanam, pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air, serta pemeliharaan jaringan irigasi menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Dukungan juga diperlukan melalui normalisasi saluran, pemeliharaan jaringan tersier, penyediaan pompa dan pipa. Saat musim hujan, saluran dan sanitasi lahan juga perlu diperhatikan untuk mengantisipasi genangan dan banjir.

Infrastruktur dan Regenerasi Petani

Keberhasilan PM-AAS tidak hanya ditentukan oleh tingginya hasil panen. Ada persoalan lain yang harus dijawab, mulai dari kondisi lahan, usia petani, keterbatasan modal, alih fungsi lahan, perubahan iklim, serangan OPT hingga belum meratanya infrastruktur irigasi dan jalan usaha tani.

Ketersediaan sarana produksi, potensi gagal panen dan keberadaan industri pengolahan juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang perlu diperkuat.

“Infrastruktur irigasi perlu menjadi perhatian utama sesuai dengan kewenangannya, baik primer, sekunder maupun tersier. Jalan usaha tani juga penting karena berkaitan dengan mobilisasi alat dan mesin pertanian, sarana produksi maupun hasil panen,” katanya.

Infrastruktur yang memadai bukan hanya mempermudah aktivitas petani, tetapi juga dapat menekan biaya angkut dan memperkuat posisi petani dalam menjual hasil produksinya.

Bukan Sekadar Mengejar 12,88 Ton

Dinas Pertanian Kota Serang tidak menjadikan angka 12,88 ton per hektare sebagai target yang harus diterapkan secara seragam di seluruh wilayah.

Produktivitas rata-rata yang realistis masih berada di kisaran 6–7 ton per hektare. Sementara lahan dan kelompok tani yang dinilai siap dapat didorong menerapkan PM-AAS untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Penguatan indeks pertanaman, ketersediaan air, penggunaan benih bersertifikat, pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, revitalisasi Rice Milling Unit (RMU), asuransi pertanian, pelatihan serta keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

“Pada akhirnya, kami ingin sistem budidaya pertanian di Kota Serang semakin berbasis teknologi. PM-AAS menjadi salah satu contoh bahwa teknologi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian,” pungkas Andriyani.

Pemuda Tani Dorong Program Satu Desa Satu Hektare Jagung di Banten

By On Rabu, Agustus 05, 2026

KONTRAS7.CO.ID, KOTA SERANG – Pemerintah Provinsi Banten mendorong pengembangan program satu desa satu hektare jagung sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Program tersebut dinilai memiliki prospek besar karena kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak di Banten mencapai hampir dua juta ton jagung pipil kering setiap tahun.

Komitmen itu disampaikan Gubernur Banten Andra Soni saat menerima audiensi DPD Pemuda Tani Indonesia Provinsi Banten di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Rabu (5/8/2026). Menurutnya, lahan pertanian di setiap desa dapat dioptimalkan untuk budidaya jagung guna memenuhi tingginya permintaan industri.

Andra Soni mengatakan, sedikitnya terdapat 14 perusahaan pakan ternak di wilayah Banten yang membutuhkan pasokan jagung dalam jumlah besar. Namun hingga kini produksi petani lokal masih belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. "Permintaannya sudah ada, tinggal bagaimana kita meningkatkan pasokannya. Saya yakin Banten bisa menjadi sentra jagung jika digerakkan bersama," ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir, memastikan Pemprov Banten siap memfasilitasi pelaksanaan program tersebut melalui penyiapan lahan, pendampingan petani, serta penguatan produksi di sentra pangan. Menurutnya, kesiapan petani dan pengelolaan budidaya menjadi faktor penting agar program berjalan optimal.

Sementara itu, Ketua DPD Pemuda Tani Indonesia Provinsi Banten, Annisa Maharani Alzahra Mahesa, menyatakan siap menggerakkan petani di tingkat desa untuk menyukseskan program satu desa satu hektare jagung. Ia berharap kolaborasi dengan Pemprov Banten mampu meningkatkan produksi jagung sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat desa.

Tanam Jagung 1 Hektare di Ciherang, PT SBJ Dukung Program Ketahanan Pangan

By On Jumat, Agustus 22, 2025

KONTRAS7.CO.ID - Lebak - PT Samudera Banten Jaya (PT SBJ) hari ini hadir dan turut serta mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan melalui kegiatan penanaman jagung seluas ±1 hektare di Desa Ciherang, Kecamatan Cibeber. 

Kegiatan diinisiasi oleh Kepala Desa Ciherang, Jaro Badi, dan dihadiri Camat Cibeber, Kapolsek Cibeber, perwakilan Danramil Bayah-Cibeber, kelompok tani, dan masyarakat Ciherang. Jumat (22/8/2025).

Nurjaya Ibo, Kepala Divisi Humas PT SBJ, menegaskan dukungan perusahaan terhadap gerakan pangan berbasis jagung yang saat ini didorong pemerintah pusat hingga daerah.

“Kami percaya ketahanan pangan adalah fondasi kesejahteraan. Dukungan ini bukan seremonial, melainkan komitmen nyata untuk bekerja bersama pemerintah desa dan para petani. Hari ini kami turun ke lahan, esok kami kawal pendampingan, tujuannya satu: jagung tumbuh baik, hasil panen meningkat, dan manfaatnya kembali ke masyarakat Ciherang,” ujar Nurjaya.

Menurut Nurjaya, keterlibatan PT SBJ dilakukan secara kolaboratif, mulai dari dukungan pembukaan lahan, kerja-kerja teknis lapangan, hingga penguatan komunikasi dengan para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan. 

“Kami ingin hadir bukan hanya terlihat. Kami ingin terasa di proses tanam, di masa perawatan, sampai panen,” tambahnya.

Inisiator kegiatan, Kepala Desa Ciherang Jaro Badi, menyampaikan apresiasi atas partisipasi lintas unsur.

“Alhamdulillah, sinergi hari ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan itu kerja bersama."

Terima kasih kepada PT SBJ yang ikut turun tangan, juga kepada Pak Camat, Kapolsek, Danramil, kelompok tani, dan warga Ciherang. Harapan kami, lahan satu hektare ini jadi contoh yang menular, bertambah luas, bertambah kelompok, dan hasilnya semakin dirasakan petani,” ucap Jaro Badi.

Camat Cibeber beserta jajaran kepolisian dan TNI di tingkat koramil hadir untuk memastikan dukungan keamanan serta kelancaran kegiatan masyarakat. 

Sementara kelompok tani bersama perangkat desa langsung memulai penanaman, penataan bedengan, serta penjadwalan perawatan agar pertumbuhan tanaman optimal sesuai kalender tanam setempat.

Kegiatan hari ini juga menjadi ajang konsolidasi teknis : pendataan lahan-lahan potensial, pembagian peran perawatan (penyulaman, pemupukan, pengendalian hama), dan rencana panen. 

PT SBJ menyatakan siap berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kelompok tani untuk pendampingan lanjutan terutama pada fase kritis vegetatif dan pengisian tongkol agar produktivitas dan kualitas hasil dapat meningkat.

Dengan langkah kolaboratif ini, Ciherang diharapkan menjadi contoh praktik baik ketahanan pangan di Cibeber : gotong-royong pemerintah desa, dukungan perusahaan, dan kerja keras petani

Andra Soni : BUMD PT ABM Jangan Hanya Jadi Calo, Harus Jadi Ujung Tombak Pelaku Usaha Agrobisnis Banten

By On Kamis, Agustus 07, 2025

Gubernur Banten, Andra Soni

KONTRAS7.CO.ID - Kota Serang - Gubernur Banten Andra Soni meminta BUMD PT. Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) tak hanya menjadi calo industri pertanian Banten. 

Ia, berharap ABM ikut mendorong pertumbuhan agrobisnis di Provinsi Banten.

Awalnya, Andra menyebutkan tujuan ABM adalah sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi di Banten. "Semangat tersebut harus dijaga dengan baik."

"Jangan menjadi middle man, tapi ujung tombak. Middle man itu bahasa lainnya CL, bahasa luar negerinya broker, bahasa kampung kita namanya calo," kata Andra, Kamis (7/8/2025). 

Menurut Andra, ABM harus menjadi mitra bagi pelaku-pelaku usaha agrobisnis. ABM harus memanfaatkan potensi usaha pertanian di Banten.

ABM salah satu badan usaha milik daerah yang kita dirikan. "Tujuan utamanya adalah bagaimana bisa menjadi mitra bagi pelaku-pelaku usaha agro, kemudian memanfaatkan potensi agro yang ada di provinsi."

Mudah-mudahan ABM bisa tumbuh dan dikelola dengan baik," katanya.

Andra melihat potensi pertanian di Banten belum digarap secara maksimal. 

Ia, menyinggung soal banyaknya industri yang membutuhkan bahan baku hasil pertanian.

"Begitu banyak industri-industri pengolahan yang ada di Provinsi Banten, itu membutuhkan bahan baku," katanya.

Andra mengatakan, ABM harus bisa mengarahkan masyarakat Banten untuk memanfaatkan lahan yang belum digarap optimal.

12,4 juta warga Banten bisa diarahkan. 9.000 km lebih tanah Banten masih banyak yang bisa dimanfaatkan. 

Di wilayah selatan masih banyak tanah-tanah yang bisa dimanfaatkan," katanya. Sumber dilansir dari detiknews.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *