Kontras7.co.id, Nasional — Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan cara menentukan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), menyusul masih banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai dasar penentuan kelompok kesejahteraan tersebut.
BPS menegaskan, desil tidak ditentukan hanya dari penghasilan, pekerjaan, daya listrik, atau kepemilikan satu jenis barang. Desil merupakan pemeringkatan relatif keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial dan ekonomi.
Dalam DTSEN, keluarga diperingkatkan berdasarkan kondisi sosial ekonominya, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok yang masing-masing mencakup sekitar 10 persen keluarga. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, angka desil harus dipahami sebagai posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya, bukan sebagai ukuran tunggal pendapatan, kekayaan, maupun kemiskinan.
Penentuannya mempertimbangkan berbagai kondisi secara bersama-sama, antara lain kondisi perumahan, sumber air minum, energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga disabilitas.
Berbagai karakteristik tersebut diolah menggunakan pendekatan statistik Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan relatif berdasarkan kondisi yang dapat diamati. Karena menggunakan banyak indikator sekaligus, perubahan pada satu kondisi saja tidak otomatis mengubah posisi desil sebuah keluarga.
BPS juga menegaskan bahwa desil bukan daftar otomatis penerima bantuan atau program pemerintah. Informasi desil dapat menjadi salah satu dasar bagi kementerian dan lembaga dalam menentukan sasaran program, tetapi penggunaannya tetap mengikuti tujuan dan ketentuan masing-masing program.
Posisi desil dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga dan perubahan posisi relatifnya dibandingkan keluarga lain. Karena itu, pemutakhiran DTSEN terus dilakukan agar data yang digunakan tetap relevan.
Masyarakat yang menemukan data keluarganya belum sesuai dengan kondisi sebenarnya juga dapat mengajukan pemutakhiran melalui mekanisme resmi yang tersedia. Namun, pengajuan perubahan data tidak berarti posisi desil akan berubah secara otomatis karena data tetap melalui proses pemutakhiran dan penghitungan berdasarkan metode yang berlaku.
Dengan demikian, desil dalam DTSEN lebih tepat dipahami sebagai gambaran posisi kesejahteraan relatif sebuah keluarga, bukan penilaian yang ditentukan hanya dari satu angka penghasilan atau satu kepemilikan tertentu.
Kontras7.co.id — Berita Aktual dan Akurat
« Prev Post
Next Post »
